Hujan (2013): Cerpen yang Dilombakan

Ang Rifkiyal

Hari ini saya iseng-iseng membuka kotak masuk di email saya. Tidak sengaja saya menemukan email lama saya tahun 2013. Email tersebut berisi lampiran tulisan yang pernah saya lombakan.


Ceritanya, sekitar tahun 2013 ada beberapa teman SMA yang mengajak saya untuk ikut lomba menulis. Kebetulan lomba yang ditawarkan adalah lomba menulis flash fiction atau menulis cerita fiksi singkat yang dibatasi 300 kata saja. 


Lomba tersebut diadakan oleh Forum Sastra Jombang (ForSamBang), dan tema yang diangkat yaitu seputar "kemerdekaan" karena bertepatan dengan momentum hari kemerdekaan 17 Agustus.


Saya yang kala itu baru belajar menulis cukup tertarik untuk ikut serta. Alasannya karena ada beberapa teman yang juga ikut serta dalam perlombaan menulis tersebut. Selain itu, jenis lombanya pun terbilang ringan untuk pemula seperti saya, karena tulisan yang dilombakan tidak akan terlalu panjang, hanya memuat sekitar 300 kata saja.


Akhirnya saya susun tulisannya, dan saya kirim melalui email sebagaimana ketentuan yang ditetapkan.


Kemudian setelah beberapa kali tahap pengumuman, ternyata tulisan saya bisa tembus hingga 30 besar dari sekitar 200-an peserta yang mengikuti lomba tersebut. Bagi saya (yang baru belajar menulis dan baru pertama kali mengikuti lomba menulis) hal tersebut cukup memberi kebanggaan dan menambah motivasi serta kepercayaan diri untuk lebih serius belajar menulis lagi.


Walaupun ketika saya baca kembali di waktu sekarang, tulisan yang saya lombakan tersebut saya pikir banyak kekurangannya. Dan jadi cenderung biasa-biasa saja.


Nah, berikut ini adalah tulisan yang saya lombakan tersebut, saya kasih judul "Hujan".


HUJAN

Pagi ini alun-alun Cililin nampak padat dipenuhi lautan manusia. Ramai untuk sebuah moment peringatan.


Ya, hari ini adalah 17 Agustus. Hari yang telah aku pesiapkan besama rekan-rekan paskibra kecamatan. Hari dimana keluh kesah kami selama latihan mesti berbuah. Berharap kami bisa mengibarkan bendera dengan lancar.


Beberapa saat lalu upacara bendera memang sudah dimulai. Para petugas upacara telah menjalankan tugasnya. Begitupun para peserta upacara yang berbaris narsis. Semua terlihat khidmat menikmati jalannya upacara di tengah pekatnya langit yang mendung. Termasuk aku dan para anggota paskibra lainnya.


“Ceng..!”. Bisik Egi yang merupakan salah satu dari tiga pengibar selain dari pada aku dan Eza.


“Apa?”. Sahutku.


“Pengen pipis, gak kuat..”


“Mmh, tadi kan udah ke toilet..”


“Beneran Ceng.. Gak kuat..”


Sekilas kulirik wajahnya. Terlihat pucat. Kurasa ia memang serius.


“Tahan Gi! Sudah tak ada waktu ke toilet, sebentar lagi giliran kita..”. Ujarku.


Dan benar saja. Tak lama seruan pengibaran bendera merah putih dikumandangkan. Danton pasukan pun mulai memberikan aba-aba.


Serentak kami langsung memasuki lapangan, menggebrak. Kemudian seluruh pasukan pun membuat formasi di lapangan. 


Hingga tibalah giliran aku, Egi, dan Eza untuk mengibarkan bendera.


Di depan tiang, kulihat Eza nampak cekatan mengaitkan bendera pada tali-tali yang memanjang. Setelah itu, ia lantas memberi sinyal kepada Egi untuk segera membentangkan bendera.


Tapi Egi hanya diam. Ia tidak merespon sinyal yang diberikan Eza. Wajahnya nampak pucat. Matanya berlinang. Tak lama kemudian aku tersadar, ternyata Egi pipis.


Aku tercengang melihat situasi ini. Kulihat Eza pun nampak bingung. Akhirnya kami hanya terdiam. Bahkan cukup lama. Orang-orang nampak bertanya-tanya melihat kami yang membisu. Tapi mereka sepertinya belum tahu kondisi Egi.


Hingga tiga menit berlalu kami masih terdiam di lapangan. Sebelum akhirnya langit memberi angin segar. Ya, hujan turun perlahan membasahi kami. Mengguyur upacara hari kemedekaan. Menyamarkan pipis Egi. Membuat kami menjadi bergairah melanjutkan kembali upacara pengibaran dengan nuansa kemenangan.


BIODATA PENULIS:
Nama Rifkiyal Robani. Nama pena Ch Iyall Marzooqie.